Google+ Followers

Senin, 31 Desember 2012

What I've Done? 2012..

New year,
What does it mean?

Yaps, malam ini kita akan memasuki detik pergantian tahun menuju 2013.
Akankah ada yang berbeda di tahun depan dengan tahun kemarin? Ataukah semuanya akan sama saja? 
Sejujurnya semua perbedaan itu akan terjadi atau tidak tergantung pada satu hal, niat dan semangat pada diri pribadi. Bukan pada perubahan tanggal, perubahan hari.. 



Sedikit merenung, saya mencoba mengingat setapak demi setapak langkah yang telah saya ambil di tahun 2012 ini. Saya akan menguntai beberapa pengalaman yang menyebabkan perasaan saya campur aduk (tidak selalu perasaan senang),

1. Mengunjungi langsung rumah Abi di Brebes
Brebes, sebuah kota perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Abi saya, yang telah lama berpisah dengan umi, kini tinggal di sana bersama keluarga barunya. Dan di sanalah saya bertemu pertama kali dengan adik (tiri) saya. Adik laki-laki yang selama ini selalu saya inginkan :). 
Brebes yang saya kunjungi adalah wilayah pinggiran. Jauh dari pusat kota. Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah membentang hingga horizon. Sangat panas dan berdebu, tapi menjanjikan pengalaman baru.

Desa abi juga menawarkan pasar malam bagi saya dengan kesempatan menunggang gajah di malam hari. Sinyal handphone sangat sulit. Saya juga mencicipi kesempatan hidup menjadi perempuan Jawa di desa yang tiap hari memakai kain batik dan menggembala anak kambing bersama abi. Bintang-bintang di malam hari begitu terang. Tanpa kabut, tanpa polusi cahaya. Seperti cermin galaksi yang bisa saya lihat tanpa menggunakan teleskop. One day, I'll be back there..


2. PIMNAS di Yogyakarta
Saya bukan peserta di sana, hanya menjadi bagian dari tim penyupport dari Kementerian Proinov. Tapi saya bisa ikut merasakan betapa sengitnya persaingan untuk membuktikan diri menjadi pemenang di ajang ini.
Di sana, di Hall Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya ikut meneriakkan salam Ganesha bersama belasan anggota tim penyupport. Kalian, mahasiswa ITB tentu terbiasa meneriakkan salam ini bersama, membahana di kampus dengan puluhan hingga ratusan mahasiswa lain. Tapi di sana, saya merasa kecil. Kami, wakil ITB hanyalah secuil dibanding tim-tim universitas lain yang jumlahnya hingga ratusan. Suara kami tidak terdengar, terkalahkan oleh teriakan dan gumaman peserta lain. 

Di situlah saya sadar. ITB, hanyalah sebuah nama, hanyalah sebuah lambang. Dan ITB, tidak akan ada artinya, tidak akan ada gaungnya, jika kita sebagai mahasiswanya tidak bisa menunjukkan prestasi. Bukan kata-kata yang berbicara, tapi prestasi..

Di sana saya juga berkesempatan mendatangi pesta penyambutan peserta di Keraton Jogjakarta, sedikit berjalan-jalan di Malioboro, dan tentu saja berbelanja batik. Dan sedihnya, dalam perjalanan kembali ke Bandung saya sempat terkena tomcat. Oh God...


3. Ngebolang sendirian di Surabaya dan Malang
Sebenarnya saya sudah sering mengunjungi dua kota ini sebelumnya. Tapi ada yang berbeda kali ini. Saya menempuh perjalanan sendirian. Naik kereta dan bis ekonomi. Hampir setengah perjalanan menuju Malang saya berdiri. Dihimpit beberapa bapak dan ibu pedagang. Dan tentu saja bau bawang dimana-mana.. :D

Namun hal yang menghibur menanti saya di Malang. Yaps, acara Malang Tempoe Doeloe. Sayang saya tidak membawa baju batik saat itu. Banyak snack tempo dulu di sana. Bodohnya, saya harus balik lagi ke Surabaya besok paginya. Terlalu terburu-buru..
Dan, rutinitas saya di Surabaya tetaplah seperti sebelumnya. Mengekpclorasi kampus ITS, hahaa. Pity! 


4. Kontes Robot Nasional Indonesia di Bandung
Musim liburan, kampus lumayan sepi. Saya iseng menjadi panitia KRI yang tuan rumahnya ITB. Sangat menyenangkan melihat peserta dari kampus-kampus lain berdatangan. Mereka merakit robot-robot yang akan dilombakan di selasar Sasana Budhaya Ganesha. Tak ketinggalan juga tim dari kampus saya.

Ini untuk kedua kalinya saya sedikit kecewa. Yaps, tepatnya sedih. Sedih melihat semangat dari mahasiswa kampus saya. Setelah sebelumnnya di PIMNAS Jogja. Saat pertandingan robot dimulai, Sabuga membahana. Namun suara pendukung kampus saya tidak ada. hilang, tertelan gaungan suporter universitas lain yang jumlahnya ratusan. Demi Tuhan, ini terjadi di Sabuga dengan ITB sebagai tuan rumah. Kemana para mahasiswa-mahasiswa terbaik bangsa itu.. :(


5. Trip to Cirebon
Hahaha, ini liburan bodor waktu saya ke Cirebon. Udah saya posting sebelumnya tentang sebagian liburan saya yang ini, di sini dan di sini. Mungkin nanti akan saya lengkapi ceritanya di post terbaru. Wah, saya jadi kangen seafood Cirebon :3


6. Menjadi bagian dari tim Protokoler ITB
Bermodal nekat, saya mendaftar menjadi tim protokoler. Hanya rasa ingin tahu yang menjadi semangat saya saat itu. Alhamdulillah diterima. :)
Sayangnya saya belum bisa bertugas pertama kali di wisuda Oktober. Semoga saya bisa bertugas di wisuda April dan seterusnya..

Itu beberapa pengalaman yang sedikit lebih dari biasa bagi saya di tahun ini.
Mungkin tidak terlalu wow atau gimana. Tapi bagi saya pengalaman-pengalaman di atas cukup memberi pelajaran bagi saya tentang semangat berprestasi, tentang hidup rakyat kelas bawah, dan tentang keberanian mengambil resiko..

"Tahun baru bagi saya bisa kapan saja. Bisa hari apa saja. Bisa tanggal berapa saja..
Tahun baru tidak akan ada artinya tanpa ada semangat yang baru. Semangat untuk menjadi lebih baik. Semangat untuk menjadikan masa lalu menjadi batu pijakan agar lebih bijak di masa depan.."

Welcome New Year Eve.. :)

Jumat, 28 Desember 2012

Historical Movie "THE YOUNG VICTORIA"

Liburan semester 5 sedang berlangsung. Waktu saya mulai diisi dengan baca novel dan nonton film..hehehe
Kebetulan lagi saya stay di Bandung liburan ini, alias gak pulang kampung. Film dan novel jadi teman kesepian :D

Nah, di post sebelumnya saya sudah  mereview tentang novel historical romance yang seritanya fiktif namun plot waktu dan tempatnya nonfiktif. Sekarang saya akan mereview film historical romance yang cerita dan plotnya nonfiktif alias berdasarkan sejarah. Judulnya "The Young Victoria". 


  • Ringkasan Cerita
Film ini release tahun 2009. Isi ceritanya mengenai kehidupan Ratu Inggris, Victoria, di awal kepemimpinannya. Dia naik tahta di usia 18 tahun, dan banyak yang meragukan kemampuannya. Dan dia ingin membuktikan bahwa dirinya tida seperti apa yang orang-orang nilai. 'too young, inexperience, unprepared'

Sejak kecil, Victoria dijauhkan dari kehidupan sosial oleh ibunya, The Duchess of Kent, yang merupakan keturunan Saxe-Coburg. Ayahnya, The Duke of Kent, meninggal saat Victoria masih bayi. Sang ibu berada dalam pengaruh Sir John Conroy, her household controller, selama mengatur Victoria. Sempat suatu saat, Conroy memaksa Victoria menandatangani surat pernyataan bahwa Victoria menunjuk dia sebagai sekretaris pribadi. Hal ini dilakukan Conroy untuk tetap bisa mengatur Victoria nantinya saat menjadi ratu.

Sementara itu, beberapa pihak mulai menjodohkan Victoria dengan pria bangsawan sebelum dirinya naik tahta. King William IV saat masih hidup, menyarankan Victoria untuk menikah dengan sepupunya, Prince Alexander, dari Belanda. Di lain pihak, paman Victoria dari ibunya (King Leopold of Belgian) sangat berambisi menjodohkan keponakannya, Prince Albert of Saxe-Coburg and Gotha dengannya. Leopold ingin pengaruh "the Coburg" tidak terhapus di Inggris. Sebelum naik tahta, Prince Albert yang tinggal di Jerman sempat mengunjungi Victoria untuk pendekatan. Ini semua sudah direncanakan oleh King Leopold. (namun sebenarnya Albert serius menyukai Victoria).

Victoria sebenarnya tertarik pada Albert, tapi belum berkeinginan untuk menikah di usia 18 tahun.

Ini isi diary Victoria setelah pertemuan awalnya dengan Albert ,
"Albert is extremely handsome, his hair is about the same colour as mine, his eyes are large and blue, and he has a beautiful nose and a very sweet mouth with fine teeth, but the charm of his countenance is his expression, which is most delightful".  
(sumber: wikipedia)

Hingga tibalah saat pemangkuan tahta setelah paman Victoria, King William, meninggal. Saat menjadi ratu, Victoria menempatkan ibunya di istana yang terpisah dengan dirinya.
Victoria dekat dengan sang perdana menteri saat itu, 2th Viscount Melbourne, yang dikenal sebagai Lord M. Di awal pemerintahannya, Victoria sempat mendapat julukan Lady M karena terlalu menurut dengan saran dari Melbourne. Hingga terjadilah percikan pemberontakan dari rakyatnya.

Victoria (Inggris) dan Albert (Jerman) selalu berkirim surat sejak Albert pulang dari pertemuan awal mereka. Albert sempat berkunjung untuk kedua kali, namun tidak bisa tinggal terlalu lama karena Victoria mengaku sangat sibuk (alasan ini saran dari Melbourne).
Namun, saat pemberontakan itu terjadi, Victoria tertekan dan merasa kesepian. Dia hanya bisa tersenyum dengan surat-surat dari Albert. Dan diapun memutuskan mengundang Albert kembali ke Inggris dan melamarnya (Ratu melamar karena etiketnya tidak bisa dilamar, hehe).

Merekapun menikah, dan menjalani bulan madu yang bahagia. Tapi Albert mulai bosan karena dirinya tidak memiliki hal yang bisa dikerjakan di istana. Dia berharap bisa mengambil bagian untuk membantu Victoria dalam menjalankan kewajibannya sebagai ratu. Tapi Victoria tidak bisa. Dan timbullah sedikit pertengkaran. Selain itu pengatur rumah tangga kerajaan, Baroness Lehzen, juga terlalu mengatur kehidupan The Queen and Prince Albert. Albert merasa tidak nyaman di istana.

Dan sebuah kejadian penembakan terjadi. Penembakan saat Victoria dan Albert sedang berkereta. Dalam film diceritakan Albert melindungi Victoria dan tertembak. Dalam kisah sebenarnya, Prince Albert tidak sampai tertembak. Hubungan mereka membaik setelah penembakan ini. Melbourne mulai lunak dan menyarankan Victoria untuk berbagi pekerjaannya dengan Prince Albert.
Masa kepemimpinan mereka berduapun dimulai. (Film end) 


  • Pemeran utama
Sutradara dan produser film ini menginginkan film ini dibintangi oleh aktor dan aktris asal Inggris (negara asal Victoria). Dan kemudian terpilihlah Emily Blunt sebaga Victoria dan Rupert Friend sebagai Prince Albert.

Oh ya, salah satu produser film ini adalah Sarah The Duchess of York, mantan istri Prince Edward. Berkat hubungannya dengan kelurga kerajaan Inggris-lah, film ini bisa shooting di beberapa istana kerajaan. 

Selain itu, Emily Blunt juga mendapatkan kesempatan untuk masuk ke ruangan Ratu Victoria yang sebenarnya, melihat langsung barang-barang pribadi Victoria, membaca diary dan juga surat-suratnya. 
Rupert Friend-pun harus belajar bahasa Jerman (bahasa ibu Prince Albert) dengan aksen yang benar. Dalam sejarah diceritakan bahwa Victoria dan Albert sangat sering bercengkerama dengan bahasa Jerman.


Rupert Friend as Prince Albert (left) and the real Prince Albert (right)



Emily Blunt as Queen Victoria (left) and the real Queen Victoria (right)



  • Review Pribadi
Cerita cinta Queen Victoria dengan Prince Albert memang sangat menyentuh. Setelah membaca beberapa sumber tentang sang ratu, saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya menerima sebuah tanggung jawab sebagai seorang ratu ketika masih berusia 18 tahun. Apalagi dalam keadaan tidak terlalu dekat dengan ibu sendiri. Wew.. sangat melodramatic. Tentu saja Victoria merasa sangat kesepian. sejak kecil dia tak pernah bersosialisasi dengan anak-anak lain. Makin memperburuk keadaan..

Dan,
Prince Albert yang tampan, baik hati, dan sangat cerdas hadir di kehidupannya. Meski awalnya karena ambisi sang paman menjodohkan mereka, toh akhirnya cinta mereka benar-benar bersemi. Prince Albert adalah figur suami yang menjadi tempat bersandar sang ratu. Saya jadi bertanya-tanya, mereka hidup bersama selama 20 tahun dan memiliki 9 orang keturunan, hehehe. Tentu tidak diragukan lagi kehidupan mereka sangat penuh cinta :)
Sembilan orang anak Victoria ini nantinya menjadi bagian dari keluarga-keluarga kerajaan di daratan Eropa.  Oleh karena itu Queen Victoria mendapat julukan 'Grandmother of Europe'.

Saya sangat suka film ini. Semuanya menggambarkan kegalauan sang ratu yang masih muda. Dan endingnya kebahagiaan keluarga sang ratu.
Hanya saja dalam cerita sebenarnya, Prince Albert meninggal pada usia muda (42 tahun). Sementara Victoria memimpin hingga usia 81 tahun.
Selama masa hidupnya tanpa Albert, Ratu jarang muncul di tempat publik, sering menggunakan gaun hitam (tanda berduka), dan selalu menyiapkan pakaian Albert seperti ketika Albert masih hidup. Betapa besar cintanya untuk Albert. :)


Beberapa bagian dari film ini yang membuat saya meleleh, yaitu :
1. Adegan setelah pernikahan mereka. Sepulang dari berkuda berdua.
Victoria said, "We will take care each other, won't we?"
Albert tersenyum sejenak, kemudian menjawab "Always"

2. Adegan setelah kejadian penembakan pada Victoria. Albert baru sadar setelah mengalami luka tembak.Sebelum penembakan, mereka sempat bertengkar dan Victoria marah.
Victoria said, "I'm sorry. What are you doing? You're so stupid" (sambil mecium pipi Albert).
Albert answered, "I have two reasons for what I did. 1st, You're irreplaceble and I'm replaceble"
Victoria said, "You're not replaceble for me" (menagis sesenggukan)

"Second, You're my only wife. You're my whole existence. I love you untill my last breath"

So sweet kaan.. :D

Tambahan info lagi,
Film ini juga dibuat edisi spesial untuk ditonton Queen Elizabeth II (recently Queen of England). Queen Elizabeth cukup meyukai jalan ceritanya, namun merasa pakaian abad 19 yang digunakan di film ini terlalu "German".
Tapi, film ini malah dapet penghargaan "the best costume" di Academy Award lho, hehehe

Ini perbandingan kostum pernikahan Victoria di film dengan sebenarnya. Hmm, saya selalu suka dengan kostum abad 19 :)

 























Senin, 24 Desember 2012

The Bridgerton Series (Part 3)

Tiga buku terakhir dari The Bridgerton's..
Hap, hap, hap..

6. When He Was Wicked

Fransesca Bridgerton. Cantik dan memesona.
Dia menikah dengan John Stirling, The 8th Earl of Kilmartin.
Hidupnya bahagia..
Dan kini dia baru saja hamil. Semuanya terlalu indah.

Namun..
Kebahagiaan itu berubah dalam sekejap.
John meninggal tiba-tiba saat mengeluh sakit kepala.
Dan Fransesca keguguran.. Dia kehilangan keluarganya. Why, lord..

Michael Stirling, begitu mencintai sepupunya, John.
Dia bahagia saat John bahagia.
Dan kini John pergi untuk selamanya. Meninggalkan istri, harta, dan juga gelar kebangsawanan Earl untuk Michael.
Lord know, semua itu tak pernah ingin Michael miliki. Hanya satu, hanya satu.. dan itu tak pernah mungkin.

Michael mencintai Fransesca sejak dulu, tapi dia menyimpan perasaannya. Dia adalah sahabat Fransesca selama pernikahannya dengan John.

Namun kini,
ketika John tiada. Apakah bisa Michael memiliki cinta yang dia inginkan..
Bisakah..

Michael memutuskan untuk pergi dari Inggris, ke India. Dia harus pergi.
Dia tidak bisa mengkhianati John dengan merebut hati Fransesca.
Meski Fransesca begitu ingin menikah lagi demi memiliki seorang anak impiannya.. Michael tidak bisa..
Dia tidak bisa menikahi Fransesca jika Fransesca tidak mencintainya.

Beberapa tahun berselang, 9th Earl of Kilmartin-pun kembali ke Inggris karena permintaan sang Dowager Countess. 

Pertemuan dengan Fransesca tentu tak bisa dia hindari.
Kali ini, bisakah dia tetap menyimpan perasaannya pada Fransesca... Bisakah.
Sementara hati Michael mulai bertanya, benarkah John akan membencinya jika dia memiliki Fransesca. Atau, sebaliknya....

Selengkapnya di When He Was Wicked..

 
7. It's In His Kiss

 

Anak terakhir Violet, Miss Hyacinth Bridgerton adalah gadis yang sangat blak-blakan. Tidak peduli perkataanya menyindir dan terkesan sinis, Dia lebih memilih jujur dan menyatakan pendapatnya..

Karena sikapnya itulah, para pria tidak terlalu tertarik dengannya. Para pria terlalu malas menghadapi kekeraskepalaanya. 

Hyacinth tidak ingin berubah. Tidak peduli jika tidak ada pria yang mau menikahinya. Dia percaya akan ada seseorang yang mau menerimanya apa adanya.

Dan Gareth St. Clair sangat membenci ayahnya. Bukan ayah kandungnya, tetapi seseorang yang dianggap ayah hingga usianya 16 tahun. Sang Baron St. Clair, memaksanya menikah muda demi menutup hutang keluarg. Oh, Lord.

Gareth tidak mau menurut. Dan keluarlah makian sang baron, bahwa Gareth adalah anak haram ibunya yang berselingkuh.
Gareth pergi, tidak ingin menjadi bahan makian dan hinaan sang baron.

Sekarang,
Garet hanya memiliki nenek, Lady Danbury, yang menyayanginya.
Dia rela melakukan apapun untuk neneknya.
Termasuk menemani neneknya menonton acara musik klasik membosankan di abad 19. Namun di sanalah dia pertama bertemu Hyacinth, teman baik neneknya.
Pertemuan yang biasa saja..

Dan tiba-tiba kakak Gareth, pewaris gelar baron, meninggal karena sakit.
Dia meninggalkan sebuah buku diary nenek mereka yang ditulis dalam bahasa Italia untuk Gareth..
dan mulailah, Gareth meminta bantuan Hyacinth untuk menerjemahkan diary itu.
Diamond..
Kata kunci pertama mereka.
Nenek Gareth menyimpan sebuah diamond di St Clair's house, tempat sang baron tinggal. Mereka harus menemukan diamond itu..

Pada akhirnya, 
akankah mereka mendapatkan diamod tersembunyi itu..
ataukah malah sesuatu lain yang mereka dapatkan.. sesuatu yang ada di setiap tatapan mereka berdua..

Selengkapnya di It's In His Kiss...



8. On The Way To The Wedding

Seri terakhir dari The Bridgerton's.
Tentang kisah cinta Gregory yang tragis.

Dia jatuh cinta pada wanita yang salah. Wanita yang sudah memberikan hatinya pada pria lain.
Gregory tidak putus asa.
Dia meminta bantuan Lady Lucinda Abernaty untuk mendekati wanita yang dicintainya.

Lucy, adalah gadis yang berpikir praktis.Dia begitu menurut ketika pamannya merencanakan pernikahannya dengan seorang putra Earl yang tidak dikenalnya.

Dan saat ini, di tempat dia belajar, dia bertemu dengan Gregory.
Dia sangat mendukung rasa tertarik Mr. Gregory Bridgerton pada sahabatnya. Dan membantu Gregory semampu dia.
 
Namun pada akhirnya,
Gregory harus menerima kenyataan bahwa wanita yang dia inginkan tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Dan Gregory harus sadar bahwa ada wanita lain yang mengisi hatinya kini. Lucy.. sahabatnya.

Tapi Lucy akan menikah..
Dan dia akan menggagalkan pernikahan itu.
Gregory harus menggagalkannya.

Semua terdengar seperti dongeng. Gregory berlari ke gereja demi menghentikan pernikahan Lucy. Dia percaya bisa meyakinkan Lucy akan cinta mereka.
Namun seringkali kenyataan tak seindah dongeng..

Lucy tetap melangsungkan pernikahannya..
Meski Gregory telah berusaha menghentikannya..

Oh Lord, benarkah Lucy tidak mencintainya..
Atau..
adakah hal lain yang Lucy sembunyikan darinya..

Selengkapnya di On The Way To The Wedding...

The Bridgerton Series (part 2)

Sekarang kita sampai di Novel ketiga Bridgerton,

3. An Offer From A Gentleman


Sekarang tokoh utamanya adalah Benedict Bridgerton, anak kedua Violet, dengan Sophia Beckett. 

Pertemuan mereka tergolong misterius. Benedict jatuh cinta pada Sophie di malam pertama mereka bertemu, di sebuah pesta masquerade.

Sophie, yang malam itu menyusup mengikuti pesta, sebenarnya hanyalah seorang pelayan dari tuan rumah. Pertemuan tanpa perkenalan itu menjadi hal yang sulit dilupakan keduanya.
Namun, sebenarnya Sophie mengenali sang Mr. Bridgerton..

Hingga beberapa tahun kemudian, Benedict masih mencari keberadaan sang lady masquerade yang sulit dilupakannya. Bahkan meski dia tidak mengetahui jelas wajah sang lady di balik topeng.

Dan pertemuan kembali akhirnya datang. Benedict tak sengaja menolong Sophie dari majikan barunya yang kurang ajar. Sejak itu Sophie tinggal di estate (rumah pribadi) milik Benedict.

Di sini,
Sophie tahu benar siapa penolongnya. Sayangnya, Benedict tidak mengenali siapa yang ditolongnya. Dia tidak tahu bahwa Sophie adalah lady yang dicarinya selama ini.

Sampai akhirnya, Benedict tertarik pada Sophie. 
Dear God, Benedict merasa Sophie adalah obat pelipurnya untuk melupakan sang Lady Masquerade. Benedictpun meminta Sophie tidak meninggalkannya.

Tapi..
Sophie hanyalah seorang pelayan. Sementara Benedict adalah pria bangsawan, putra seorang Viscount.
Tentu saja Sophie sadar, pernikahan bagi mereka sangatlah tidak mungkin. Dan benar saja, Benedict memintanya menjadi wanita simpanan. Pity.

Terlalu rumit..
Akankah Benedict sadar bahwa Sophie adalah Lady Masquerade yang selalu dia cari. 
Akankah Sophie mau menerima tawaran Benedict menjadi wanita simpanan..

Dan ketika asal usul Sophie akhirnya terbuka, cinta keduanya semakin sulit disatukan.
Antara cinta, martabat, dan... keluarga

Selengkapanya di An Offer from A Gentleman..



 4. Romancing Mr. Bridgerton

Colin Bridgerton, anak ketiga Violet, adalah satu-satunya keluarga Bridgerton yang memiliki mata berwarna hijau. Dia juga pria Bridgerton yang paling humoris.

Colin memiliki segalanya. Bangsawan tampan dan harta yang lebih dari cukup. Namun dia merasa tak memiliki tujuan hidup. Hidup, baginya terlalu datar..
Dan dimulailah petualangan itu. 

Colin mengelilingi Eropa dan Afrika Utara demi memuaskan keinginannya. Hal ini juga menjadi alasan kabur dari desakan menikah dari ibunya..

 Hingga saat dia kembali ke Inggris, dia bertemu kembali dengan seseorang yang dulu tak sengaja dia permalukan. Dan kini dia tampak.... berbeda

Penelope Featherington, seorang gadis yang kurang beruntung.
Kedua kakak perempuannya sudah menikah. Usianya sekarang sudah 29 tahun (sudah ukuran perawan tua saat itu). Dan dia tidak memiliki kecantikan yang spektakuler. Biasa dan sederhana..
Dan sialnya lagi, ibunya sangat suka memerintah dia untuk memakai gaun berwarna kuning sejak season pertama yang dia ikuti. Warna kuning bukan hanya buruk, tapi petaka bagi gadis berambut dan berwarna brown sepertinya.

Tapi sekarang, dia berubah. Dia sudah bukan debutan yang bisa diatur paksa oleh ibunya. Dia bebas memakai gaun apapun..

Dia dan Eloise Bridgerton adalah sahabat dekat yang tak terpisahkan. Mereka berjanji akan selalu berdua, meski harus menjadi perawan tua bersama.. Lord, help.


Colin..
Cinta pertama Penelope, yang dulu secara lantang mengatakan tak akan pernah mau menikah dengan Penelope.
Kini,
Dia kembali. Kembali dari petualangannya.
Dan pertemuan keduanya tentu tak terhindarkan. Pertemuan yang berbeda.

Yakinkah Colin dengan perkataannya dulu tentang Penelope...
Sementara itu, masih ada sebuah rahasia besar Penelope yang belum terungkap. Dan apakah nantinya Colin akan mau menerima rahasia itu..

Selengkapnya di Romancing Mr. Bridgerton...


5. To Sir Philip With Love

Eloisa Bridgerton, wanita yang keras kepala dan blak-blakan. Delapan lamaran sudah dia tolak sejak season pertama. Alasannya adalah.. belum merasa cocok.

Dia merasa bahagia dengan hidupnya. Dia selalu bahagia bersama  Penelope, sahabatnya. Mereka akan menjadi sahabat sampai tua nanti, meski tidak menikah..

Tapi kemudian semua berubah,
Colin, kakaknya, jatuh cinta pada Penelope dan ingin menikahinya.
Ada yang salah. Eloise merasa ada yang salah dengan dirinya. Dia merasa.. sendiri.

Philip Crane lelah dengan kedua anak kembarnya, Oliver dan Amanda. Sejak ibu mereka meninggal, Philip sulit mengatur kenakalan mereka. Dia butuh seorang istri untuk mengurusi anak-anaknya.. Seorang ibu lebih tepatnya.

Dan Philip memutuskan mengundang Miss Bridgerton ke rumahnya. Philip ingin melamarnya..

Eloise, sang Miss Bridgerton, selalu senang menulis surat. Dan salah satu koleganya adalah Sir Philip, duda dari sepupunya.
Dan pria itu kini mengundangnya ke rumahnya, dan melamarnya.

Oh dear, haruskah dia pergi. Beranikah Eloise mengambil resiko seandainya Sir Philip-nya ternyata tak sama dengan apa yang dia bayangkan.
 Dan apakah benar Philip hanya butuh seorang ibu bagi anak-anaknya..
Ataukah dia sendiri tak sadar jika dirinya butuh seseorang.. ya, seseorang yang mencintainya.


Selengkapnya di Sir Philip With Love...

Bersambung ke Part 3....... :)





Minggu, 23 Desember 2012

The Bridgerton's Series (part 1)

Historical romance, adalah jenis novel romantis dengan setting Inggris masa lalu. Tepatnya bersetting era regency England (abad 19 awal).
Sejak SMA saya suka novel historical romance karya Barbara Carthland. Selain ceritanya yang tidak membosankan, pendeskripsian tempat dalam cerita sangatlah nyata. Pembaca akan merasa berada di tempat yang sama dengan para tokoh. Itu yang menarik.

Di semester 3 kuliah, saya mulai kembali membaca novel historical romance. Saya meminjam dari sebuah pusat peminjaman buku untuk umum. 
Well, dari sinilah say mulai mengenal beberapa penulis novel Historical Romance selain Barbara Carthland. Salah satunya adalah Julia Quinn.

Setelah semua novel historical selesai saya pinjam dan baca, saya bingung harus pinjam kemana lagi. Dan akhirnya saya mencoba untuk mencari e-book novel Julia Quinn yang lain.
Dan voila, sebuah blog menyediakan free download untuk semua novel karangan Quinn. Dear God, it's heaven.

Dan,
Saya memutuskan membaca The Bridgerton series. The greatest stories ever.
Seri ini terdiri dari delapan novel. Masing-masing menceritakan kisah cinta anggota keluarga Bridgerton. 
The Bridgerton's beranggotakan 9 orang, Violet sang Dowager Viscountess Bridgerton, dan delapan orang anaknya. Delapan orang anak Violet ini memiliki inisial nama secara alphabetical. Dari A sampai H. Anthony, Benedict, Colin, Daphne, Eloise, Fransesca, Gregory, dan Hyacinth.

Saya mengambil sebuah fan sketch untuk keluarga Bridgerton. Keluarga yang terkenal dengan rambutnya yang berwarna chestnut. Dan tentu saja dengan nama alphabetical mereka. :)



Dan ini delapan judul novel yang menceritakan perjalanan cinta anak-anak Violet. Saya juga menuliskan sedikit sinopsis secara pribadi untuk setiap cerita :)

1. The Duke and I

Ini adalah novel pertama dari seri Bridgerton. Tokoh utamanya adalah Daphne Bridgerton, anak keempat dan putri pertama Violet, dengan Simon Basset, The Duke of Hasting.

Simon, sang Duke yang tampan dan kaya, adalah salah satu bujangan diminati di London. Tapi Simon sudah berjanji tidak akan menikah seumur hidupnya. Hal ini karena masa lalu kelam dengan ayahnya sendiri.
Sejak menuntut ilmu di Oxford, dia bersahabat dengan Anthony, kakak tertua Daphne.

Awal pertemuannya dengan Daphne, Simon berpendapat bahwa Daphne adalah wanita dengan senyum yang menghipnotis. Dan tentu saja itu menarik perhatiannya.
Dia terkejut saat mengetahui bahwa Daphne adalah adik sahabatnya. Mengingat sebuah perjanjian tak tertulis "Do not play fun with your bestfriend's sister".

Yaps, Simon harus berpikir dua kali untuk mendekati Daphne. Dia adalah wanita yang harus dinikahi, bukan untuk dijadikan simpanan. Dan Simon tidak akan pernah menikah, tidak akan...

Tapi, sebuah ide konyol muncul dari Daphne. Mereka berpura-pura jatuh cinta. Alasannya, agar Daphne bisa menerima banyak lamaran di season ini. (Season adalah saat dimana para bangsawan Inggris mengadakan pesta dansa untuk memfasilitasi perkenalan antara para debutan/gadis bangsawan dengan para pria terhormat).
Dan, tentu saja Simon menerima ide Daphne. Ini akan menjadi tameng baginya untuk menghindar dari para ibu bangsawan ambisius yang ingin menikahkan anaknya dengan seorang Duke. Oh, Good God.

Namun ternyata hal konyol ini menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga. Sesuatu dalam diri Daphne yang tak bisa Simon hindari.
Saat dimana Simon tak bisa mengelak dari pesona Daphne yang ramah serta baik hati, dan saat Simon lupa akan janjinya untuk tidak menikah...

Selengkapnya di The Duke and I..



2. The Viscount Who Loved Me

 Anthony, anak tertua Violet, sudah menjadi Viscount sejak kematian ayahnya ketika Anthony berusia 18 tahun.
Kematian sang ayah yang begitu mendadak di usia muda (38 tahun) dan dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal, tersengat lebah, membuat Anthony ssedikit terguncang

11 tahun setelah kematian ayahnya..
Sebagai anak tertua, Anthony bertanggung jawab atas keluarganya. Dia bersikap seperti ayah bagi adik-adiknya.
Hingga suatu saat dia memutuskan untuk menikah...

Menikah, dan memiliki pewaris kebangswanan Viscount-nya. Itu tujuan utamanya. Bukan mencari pasangan hidup yang sebenarnya. Karena Anthony, tidak akan pernah jatuh cinta. Tidak akan pernah.

Dan season ini, Edwina Sheffield adalah salah satu debutan yang banyak diminati. Dia cantik dan cerdas. dan anthony memutuskan untuk menjadikan Edwina sebagai Viscountess-nya.

Tapi, Kate Sheffield, kakak tiri Edwina yang keras kepala sangat tidak menyukai Anthony. Dia percaya dengan gosip yang beredar bahwa Anthony adalah seorang playboy. Dan ironisnya, Edwina hanya akan menikah atas persetujuan Kate (walaupun saudara tiri, mereka saling menyayangi).

Dan dimulailah ambisi itu. Anthony akan menaklukan Kate agar dia menyetujui lamaran Anthony pada adiknya. Harus. Dia butuh Viscountess.. seorang Viscountess.

Mulai dari awal pertemuan, Kate bersikap sinis pada Anthony. Adu mulut di setiap kesempatan. Hingga suatu saat keluarga Sheffield diundang untuk datang pesta rumah (dihelat beberapa hari sehingga para tamu bisa menginap di rumah sang tuan rumah),di rumah sang Viscount di Kent. Edwina tidak bisa hadir karena sakit. Kate-pun datang hanya berdua dengan ibunya.

Beberapa hari berinteraksi bersama keluarga besar Anthony (ibu dan adik-adiknya), Kate sadar bahwa Anthony adalah seseorang yang bertanggung jawab. Dan Anthony mulai bersikap baik padanya. Dan mereka mulai merasa dekat, kedekatan yang agak mengganggu Kate.

Sampai beberapa hari kemudian, Kate menyatakan persetujuannya pada Anthony untuk menikahi Edwina. Dan entah kenapa Anthony bingung, antara senang dan... ingin marah.
Dan tiba-tiba sesuatu itu datang mendekati Kate. Sesuatu yang begitu dibenci Anthony...
Lebah...

Selengkapnya di The Viscount Who Loved Me..

Bersambung ke Part 2... :)