Google+ Followers

Senin, 31 Desember 2012

What I've Done? 2012..

New year,
What does it mean?

Yaps, malam ini kita akan memasuki detik pergantian tahun menuju 2013.
Akankah ada yang berbeda di tahun depan dengan tahun kemarin? Ataukah semuanya akan sama saja? 
Sejujurnya semua perbedaan itu akan terjadi atau tidak tergantung pada satu hal, niat dan semangat pada diri pribadi. Bukan pada perubahan tanggal, perubahan hari.. 



Sedikit merenung, saya mencoba mengingat setapak demi setapak langkah yang telah saya ambil di tahun 2012 ini. Saya akan menguntai beberapa pengalaman yang menyebabkan perasaan saya campur aduk (tidak selalu perasaan senang),

1. Mengunjungi langsung rumah Abi di Brebes
Brebes, sebuah kota perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Abi saya, yang telah lama berpisah dengan umi, kini tinggal di sana bersama keluarga barunya. Dan di sanalah saya bertemu pertama kali dengan adik (tiri) saya. Adik laki-laki yang selama ini selalu saya inginkan :). 
Brebes yang saya kunjungi adalah wilayah pinggiran. Jauh dari pusat kota. Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah membentang hingga horizon. Sangat panas dan berdebu, tapi menjanjikan pengalaman baru.

Desa abi juga menawarkan pasar malam bagi saya dengan kesempatan menunggang gajah di malam hari. Sinyal handphone sangat sulit. Saya juga mencicipi kesempatan hidup menjadi perempuan Jawa di desa yang tiap hari memakai kain batik dan menggembala anak kambing bersama abi. Bintang-bintang di malam hari begitu terang. Tanpa kabut, tanpa polusi cahaya. Seperti cermin galaksi yang bisa saya lihat tanpa menggunakan teleskop. One day, I'll be back there..


2. PIMNAS di Yogyakarta
Saya bukan peserta di sana, hanya menjadi bagian dari tim penyupport dari Kementerian Proinov. Tapi saya bisa ikut merasakan betapa sengitnya persaingan untuk membuktikan diri menjadi pemenang di ajang ini.
Di sana, di Hall Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya ikut meneriakkan salam Ganesha bersama belasan anggota tim penyupport. Kalian, mahasiswa ITB tentu terbiasa meneriakkan salam ini bersama, membahana di kampus dengan puluhan hingga ratusan mahasiswa lain. Tapi di sana, saya merasa kecil. Kami, wakil ITB hanyalah secuil dibanding tim-tim universitas lain yang jumlahnya hingga ratusan. Suara kami tidak terdengar, terkalahkan oleh teriakan dan gumaman peserta lain. 

Di situlah saya sadar. ITB, hanyalah sebuah nama, hanyalah sebuah lambang. Dan ITB, tidak akan ada artinya, tidak akan ada gaungnya, jika kita sebagai mahasiswanya tidak bisa menunjukkan prestasi. Bukan kata-kata yang berbicara, tapi prestasi..

Di sana saya juga berkesempatan mendatangi pesta penyambutan peserta di Keraton Jogjakarta, sedikit berjalan-jalan di Malioboro, dan tentu saja berbelanja batik. Dan sedihnya, dalam perjalanan kembali ke Bandung saya sempat terkena tomcat. Oh God...


3. Ngebolang sendirian di Surabaya dan Malang
Sebenarnya saya sudah sering mengunjungi dua kota ini sebelumnya. Tapi ada yang berbeda kali ini. Saya menempuh perjalanan sendirian. Naik kereta dan bis ekonomi. Hampir setengah perjalanan menuju Malang saya berdiri. Dihimpit beberapa bapak dan ibu pedagang. Dan tentu saja bau bawang dimana-mana.. :D

Namun hal yang menghibur menanti saya di Malang. Yaps, acara Malang Tempoe Doeloe. Sayang saya tidak membawa baju batik saat itu. Banyak snack tempo dulu di sana. Bodohnya, saya harus balik lagi ke Surabaya besok paginya. Terlalu terburu-buru..
Dan, rutinitas saya di Surabaya tetaplah seperti sebelumnya. Mengekpclorasi kampus ITS, hahaa. Pity! 


4. Kontes Robot Nasional Indonesia di Bandung
Musim liburan, kampus lumayan sepi. Saya iseng menjadi panitia KRI yang tuan rumahnya ITB. Sangat menyenangkan melihat peserta dari kampus-kampus lain berdatangan. Mereka merakit robot-robot yang akan dilombakan di selasar Sasana Budhaya Ganesha. Tak ketinggalan juga tim dari kampus saya.

Ini untuk kedua kalinya saya sedikit kecewa. Yaps, tepatnya sedih. Sedih melihat semangat dari mahasiswa kampus saya. Setelah sebelumnnya di PIMNAS Jogja. Saat pertandingan robot dimulai, Sabuga membahana. Namun suara pendukung kampus saya tidak ada. hilang, tertelan gaungan suporter universitas lain yang jumlahnya ratusan. Demi Tuhan, ini terjadi di Sabuga dengan ITB sebagai tuan rumah. Kemana para mahasiswa-mahasiswa terbaik bangsa itu.. :(


5. Trip to Cirebon
Hahaha, ini liburan bodor waktu saya ke Cirebon. Udah saya posting sebelumnya tentang sebagian liburan saya yang ini, di sini dan di sini. Mungkin nanti akan saya lengkapi ceritanya di post terbaru. Wah, saya jadi kangen seafood Cirebon :3


6. Menjadi bagian dari tim Protokoler ITB
Bermodal nekat, saya mendaftar menjadi tim protokoler. Hanya rasa ingin tahu yang menjadi semangat saya saat itu. Alhamdulillah diterima. :)
Sayangnya saya belum bisa bertugas pertama kali di wisuda Oktober. Semoga saya bisa bertugas di wisuda April dan seterusnya..

Itu beberapa pengalaman yang sedikit lebih dari biasa bagi saya di tahun ini.
Mungkin tidak terlalu wow atau gimana. Tapi bagi saya pengalaman-pengalaman di atas cukup memberi pelajaran bagi saya tentang semangat berprestasi, tentang hidup rakyat kelas bawah, dan tentang keberanian mengambil resiko..

"Tahun baru bagi saya bisa kapan saja. Bisa hari apa saja. Bisa tanggal berapa saja..
Tahun baru tidak akan ada artinya tanpa ada semangat yang baru. Semangat untuk menjadi lebih baik. Semangat untuk menjadikan masa lalu menjadi batu pijakan agar lebih bijak di masa depan.."

Welcome New Year Eve.. :)

1 komentar: